Langit
terlihat hitam legam, tak ada sedikit pun cayaha yang di perlihatkannya kepada
bumi. Aku berdiri di depan kamarku melihat langit yang sangat tidak bersahabat,
tetapi temanku mengatakan sesungguhnya semua langit mengikuti perintah Tuhan
dan sesungguhnya semua yang ia berikan adalah berkah untuk kita.
Aku
terdiam sejenak, menyaksikan dua dunia begitu gelap, langit bumi dan langit
hatiku. Apakah semua ini berkah untukku? Atau kesusahan yang harus aku
tanggung? "Hanya Tuhan yang tahu", Kata temanku yang sepertinya dapat
membaca isi hatiku. Aku hanya melemparkan senyuman kecut kepadanya. Diam
melihat dan mencerna semua kejadian alam ini dengan kepala terbuka.
Tiba-tiba
ada suara yang terlintas di pikiranku, "Apakah harus kau lepaskan
semuanya?" Aku mencoba mencerna maksud dari pertanyaan itu, tapi aku sudah
terlalu lelah untuk berfikir. Aku mengucapkan salam perpisahan untuk langit
dunia yang begitu gelap, lalu aku masuk ke dalam kamar dan berbaring di atas
kasurku yang keras. Bantal yang sudah tak jelas warnyanya setia menunggu ku
untuk meletakkan kepala ku yang sudah lelah berfikir.
Aku
mencoba untuk pergi ke pulau kapuk, tapi otakku tak mengizinkanku dengan
memberikan pertanyaan, "Apa kah dia masih ada di sana? Atau sudah pergi?
Kau pun tak memikirkan itu kan?" Aku hanya diam tak berbahasa, diam tak
berani mengambil kesimpulan dan hingga pada akhirnya tanpa aku sadari aku sudah
pergi menuju pulau kapuk.
No comments:
Post a Comment