Aku
ingin menangis melihat bangsa ini, aku ingin memperbaikinya, tapi aku saja
tidak bisa memperbaiki diriku sendiri, bagaimana mungkin aku bisa memperbaiki
bangsa ini. Hanya bisa berkhayal sembari menjalani kehidupanku yang tak jelas
arahnya ke mana, terlalu banyak pilihan dan tekanan.
Hal
tersebut yang aku pikirkan 3 tahun yang lalu, tetapi aku salah, aku sudah
berubah, sekarang aku memiliki beberapa perusahaan penting di Bangsa ini dan
tujuanku belum tercapai sepenuhnya, aku ingin membangun semangat juang generasi
muda di bawahku, agar tujuan mereka jelas, sehingga dapat membuat tekad dan
kemauan mereka semakin besar.
"HAYOOOOOO!!!
Pasti ngelamunin generasi di bawahmu lagi kan?" Istriku mengagetkanku yang
sedang duduk termenung di roof top rumahku. Kebiasaan dirinya tidak pernah
berubah sejak dahulu, ia bukan wanita pertama yang pernah ada di dalam hatiku,
tetapi ia wanita terakhir di dalam hidupku sebagai seorang istri. Kami baru
saja menikah 1 tahun lebih, tetapi kami sudah saling mengenal sejak duduk di
sekolah dasar. Tapi aku tidak akan menjelaskan tentang hubungan kami, biarlah
kami saja yang mengetahuinya. Ia sangat tahu siapa aku dan bagaimana aku,
karena kami memiliki banyak kemiripan dan juga banyak perbedaan, hal tersebut
yang membuat kami semakin dekat setiap harinya.
"Sudahlah,
lebih baik kamu pikirkan keluarga kita dulu, aku tidak ingin nanti anak kita
tidak mengenal ayahnya, karena selalu berurusan dengan dunia luar" Curahan
hati istriku yang sudah duduk di sebelahku sambil merangkul tangan kiriku. Aku
berhenti berfikir sejenak, dan berkata,"Istriku, aku tidak akan
meninggalkanmu dan anak kita nanti, aku akan lebih banyak menghabiskan waktuku
dengan keluarga kita.
2
tahun kemudian aku menjadi dewan tinggi di dalam perusahaan yang memberikan
fasilitas dan bimbingan kepada generasi muda yang memiliki kreatifitas yang
tinggi, tetapi di lain sisi aku memiliki seorang anak berumur 1 tahun, tetapi
aku tidak sering bersamanya, karena banyak undangan acara dan aku tidak mungkin
membawa anakku yang masih berumur 1 tahun. Semuanya bercampur aduk di kepalaku,
aku harus bisa membagi waktuku. Saat pulang jam 10 malam, istriku menangis di
kamar, aku menghampirinya, kemudian ia memelukku dengan sangat erat, "Kau
pilih kami atau mereka? Kalau kau memang memilih dia, biarkan aku ke rumah
ibuku" Pertanyaan yang ia berikan membuatku diam seribu bahasa.
No comments:
Post a Comment