Monday, November 26, 2012

Perjalanan dan Cinta


Aku ingin menangis melihat bangsa ini, aku ingin memperbaikinya, tapi aku saja tidak bisa memperbaiki diriku sendiri, bagaimana mungkin aku bisa memperbaiki bangsa ini. Hanya bisa berkhayal sembari menjalani kehidupanku yang tak jelas arahnya ke mana, terlalu banyak pilihan dan tekanan.
Hal tersebut yang aku pikirkan 3 tahun yang lalu, tetapi aku salah, aku sudah berubah, sekarang aku memiliki beberapa perusahaan penting di Bangsa ini dan tujuanku belum tercapai sepenuhnya, aku ingin membangun semangat juang generasi muda di bawahku, agar tujuan mereka jelas, sehingga dapat membuat tekad dan kemauan mereka semakin besar.
"HAYOOOOOO!!! Pasti ngelamunin generasi di bawahmu lagi kan?" Istriku mengagetkanku yang sedang duduk termenung di roof top rumahku. Kebiasaan dirinya tidak pernah berubah sejak dahulu, ia bukan wanita pertama yang pernah ada di dalam hatiku, tetapi ia wanita terakhir di dalam hidupku sebagai seorang istri. Kami baru saja menikah 1 tahun lebih, tetapi kami sudah saling mengenal sejak duduk di sekolah dasar. Tapi aku tidak akan menjelaskan tentang hubungan kami, biarlah kami saja yang mengetahuinya. Ia sangat tahu siapa aku dan bagaimana aku, karena kami memiliki banyak kemiripan dan juga banyak perbedaan, hal tersebut yang membuat kami semakin dekat setiap harinya.
"Sudahlah, lebih baik kamu pikirkan keluarga kita dulu, aku tidak ingin nanti anak kita tidak mengenal ayahnya, karena selalu berurusan dengan dunia luar" Curahan hati istriku yang sudah duduk di sebelahku sambil merangkul tangan kiriku. Aku berhenti berfikir sejenak, dan berkata,"Istriku, aku tidak akan meninggalkanmu dan anak kita nanti, aku akan lebih banyak menghabiskan waktuku dengan keluarga kita.
2 tahun kemudian aku menjadi dewan tinggi di dalam perusahaan yang memberikan fasilitas dan bimbingan kepada generasi muda yang memiliki kreatifitas yang tinggi, tetapi di lain sisi aku memiliki seorang anak berumur 1 tahun, tetapi aku tidak sering bersamanya, karena banyak undangan acara dan aku tidak mungkin membawa anakku yang masih berumur 1 tahun. Semuanya bercampur aduk di kepalaku, aku harus bisa membagi waktuku. Saat pulang jam 10 malam, istriku menangis di kamar, aku menghampirinya, kemudian ia memelukku dengan sangat erat, "Kau pilih kami atau mereka? Kalau kau memang memilih dia, biarkan aku ke rumah ibuku" Pertanyaan yang ia berikan membuatku diam seribu bahasa.

No comments: