Monday, November 26, 2012

Dilema Dalam Pilihan


Pagi ini aku lari pagi sendiri lagi, seperti biasa, setelah sholat subuh aku melakukan pemanasan sebelum berangkat lari jam lima pagi. Tak ada sesuatu yang spesial, hanya rutinitas yang aku lakukan setiap pagi hari. Aku melihat ke arah jam dinding di kamarku, sudah jam lima kurang, aku memasang sepatu dan mempersiapkan musik yang akan aku putarkan di handphone ku, satu-satunya temanku yang setia s
etiap pagi.
Aku mulai berjalan menjauhi kosanku, setelah sekitar lima menit jalan, aku sampai di pinggir jalan yang masih sepi, hanya beberapa angkot yang mondar-mandir, selalu berjalan 24 jam sehari. Aku mulai dengan berjalan cepat hingga akhirnya aku lari pagi di temani oleh lantunan musik easy rock agar membantu adrenalinku saat sedang lari pagi, sudah sekitar setengah jam aku berlari, langkahku melambat ketika melihat seorang wanita yang sedang lari pagi di depanku, baru kali ini aku melihat dirinya. Saat aku memperlambat langkahku, agar aku tetap berada di belakangnya, wanita yang berjilbab putih dan tubuhnya tidak terlalu tinggi itu terjatuh tersandung batu, hingga ia hilang keseimbangan dan akhirnya terjatuh. Aku bergegas mendekatinya dan membantunya berdiri, kemudian ia mengucapkan terima kasih, saat aku melihat wajahnya, terlihat seperti anak SMA, polos dan lucu. "Kamu mahasiswa baru ya di sini?" Tanyaku membuka percakapan kami, tebakanku benar, ia menganggukkan kepalanya dengan malu-malu, lalu aku memperingatinya agar lebih berhati-hati, karena di jalan ini memang banyak batu-batu kecil berkeliaran.
Kami pun akhirnya melanjutkan lari pagi bersama, dalam perjalanan ia sempat terhuyung dan aku langsung menangkapnya, "Kamu tidak apa-apa?" tanyaku khawatir, ia hanya menggelengkan kepalanya dan melanjutkan lari pagi, hingga jam menunjukkan pukul 7 pagi, artinya aku harus segera kembali ke kosanku untuk bersiap-siap kuliah, karena aku ada kelas kuliah jam sembilan pagi. Aku menawarkan untuk mengantarkannya pulang ke kosannya, karena saat dalam perjalanan aku menanyakan di mana ia ngekos dan kosannya satu arah denganku. Ia setuju karena ia belum mengenal daerah sini dengan baik, karena notabene ia adalah mahasiswa baru. Saat aku mengantarkannya pulang, aku melihat di depan kosannya terdapat seorang lelaki yang sedang duduk di atas motor roda duanya. Saat lelaki itu melihat kebelakang, muka lelaki itu berubah jadi merah. Ia turun dan menghampiri kami. Aku ingin bertanya pada Aurel, saat aku melihat wajahnya begitu sangat ketakutan. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa lelaki tersebut? Pacarnya atau saudaranya? Pertanyaan itu terlintas dengan sangat cepat di kepalaku.

No comments: