Pagi
ini aku lari pagi sendiri lagi, seperti biasa, setelah sholat subuh aku
melakukan pemanasan sebelum berangkat lari jam lima pagi. Tak ada sesuatu yang
spesial, hanya rutinitas yang aku lakukan setiap pagi hari. Aku melihat ke arah
jam dinding di kamarku, sudah jam lima kurang, aku memasang sepatu dan
mempersiapkan musik yang akan aku putarkan di handphone ku, satu-satunya
temanku yang setia s
etiap
pagi.
Aku
mulai berjalan menjauhi kosanku, setelah sekitar lima menit jalan, aku sampai
di pinggir jalan yang masih sepi, hanya beberapa angkot yang mondar-mandir,
selalu berjalan 24 jam sehari. Aku mulai dengan berjalan cepat hingga akhirnya
aku lari pagi di temani oleh lantunan musik easy rock agar membantu adrenalinku
saat sedang lari pagi, sudah sekitar setengah jam aku berlari, langkahku
melambat ketika melihat seorang wanita yang sedang lari pagi di depanku, baru
kali ini aku melihat dirinya. Saat aku memperlambat langkahku, agar aku tetap
berada di belakangnya, wanita yang berjilbab putih dan tubuhnya tidak terlalu
tinggi itu terjatuh tersandung batu, hingga ia hilang keseimbangan dan akhirnya
terjatuh. Aku bergegas mendekatinya dan membantunya berdiri, kemudian ia
mengucapkan terima kasih, saat aku melihat wajahnya, terlihat seperti anak SMA,
polos dan lucu. "Kamu mahasiswa baru ya di sini?" Tanyaku membuka
percakapan kami, tebakanku benar, ia menganggukkan kepalanya dengan malu-malu,
lalu aku memperingatinya agar lebih berhati-hati, karena di jalan ini memang
banyak batu-batu kecil berkeliaran.
Kami
pun akhirnya melanjutkan lari pagi bersama, dalam perjalanan ia sempat
terhuyung dan aku langsung menangkapnya, "Kamu tidak apa-apa?"
tanyaku khawatir, ia hanya menggelengkan kepalanya dan melanjutkan lari pagi,
hingga jam menunjukkan pukul 7 pagi, artinya aku harus segera kembali ke
kosanku untuk bersiap-siap kuliah, karena aku ada kelas kuliah jam sembilan
pagi. Aku menawarkan untuk mengantarkannya pulang ke kosannya, karena saat
dalam perjalanan aku menanyakan di mana ia ngekos dan kosannya satu arah
denganku. Ia setuju karena ia belum mengenal daerah sini dengan baik, karena
notabene ia adalah mahasiswa baru. Saat aku mengantarkannya pulang, aku melihat
di depan kosannya terdapat seorang lelaki yang sedang duduk di atas motor roda
duanya. Saat lelaki itu melihat kebelakang, muka lelaki itu berubah jadi merah.
Ia turun dan menghampiri kami. Aku ingin bertanya pada Aurel, saat aku melihat
wajahnya begitu sangat ketakutan. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa lelaki
tersebut? Pacarnya atau saudaranya? Pertanyaan itu terlintas dengan sangat
cepat di kepalaku.
No comments:
Post a Comment