"Aku
keluar!" Bentakku dengan sangat keras. sudah satu tahun ini aku bertengkar
dengan dirinya, tak satu kata pun yang aku katakan di dengarkan olehnya, aku
sudah tidak tahan lagi, aku membawa barang-barang yang aku beli dengan
keringatku sendiri. Aku tidak ingin membawa barang-barang yang dia berikan
padaku. Wanita separuh baya yang duduk diam di dalam kamar menangis sedih saat
aku meninggalkan rumah, bukan salah dirinya aku pergi, aku sangat mencintai
dirinya, tetapi aku tidak tahan dengan perlakuan lelaki tersebut. Aku melihat
wajah lelaki itu dengan penuh kebencian, kemudian aku melihat wajah wanita
setengah baya yang terus mengatakan padaku agar aku tidak meninggalkan tempat
ini, aku tidak ingin pergi dari sini, tapi keputusanku sudah bulat, aku akan
pergi untuk membuktikan bahwa aku tidak selalu salah.
Tujuh
tahun sudah berlalu, selama itu aku tidak pernah berjumpa dengan mereka, aku
ingin berjumpa dengan wanita yang sangat aku cintai di dunia ini, tapi rasa
benciku tak luntur sama sekali pada lelaki itu. Hingga pada saat aku sedang
berjalan menuju kantorku, aku melihat seorang kakek-kakek yang tiba-tiba jatuh
tersungkur saat sedang berjalan di pinggiran jalan. Aku meminggirkan mobilku
dan menolong kakek tersebut, "Kakek tidak apa-apa?" Tanyaku dengan
sedikit muka cemas, tetapi lelaki tua tersebut hanya menggelengkan kepalanya,
aku melihat ke arah kakinya yang di bungkus celana bahan warna hitam yang sudah
sangat lusuh, banyak lobang di mana-mana. Ada luka di lutut kakinya, aku merasa
luka tersebut akibat ia jatuh tersungkur tadi, aku mengajak lelaki tua tersebut
untuk ikut aku ke rumah sakit agar cepat mengobati kakinya, lelaki tersebut
hanya diam dan menurutiku.
Sesampainya
di rumah sakit, ia pun segera di obati di ruangan unit gawat darurat, saat ia
sedang duduk di kasur, aku bertanya kepada lelaki tua tersebut, "Kakek
ingin pergi ke mana?" Ia diam sejenak dan kemudian mengatakan bahwa ia
ingin menjumpai anak laki-lakinya yang sudah lama tidak ia jumpai, ia juga
mengatakan bahwa ia berharap anak laki-lakinya itu sepertiku. Aku terdiam
sejenak, entah apa yang aku rasakan, banyak yang terlintas di pikiran dan
hatiku. "Aku dan anakku sering bertengkar sejak ia remaja, aku hanya
menginginkan ia menjadi lelaki yang bertanggung jawab, tetapi dia dan egonya,
aku dan egoku mengalahkan perasaan kami, hingga ia pergi meninggalkanku, sudah
2 bulan ia tak pulang, sehingga aku mencoba mencari dirinya" Cerita lelaki
tua tersebut padaku dengan mata yang berkaca-kaca.
No comments:
Post a Comment