Monday, November 26, 2012

Hukum Alam


"Aku keluar!" Bentakku dengan sangat keras. sudah satu tahun ini aku bertengkar dengan dirinya, tak satu kata pun yang aku katakan di dengarkan olehnya, aku sudah tidak tahan lagi, aku membawa barang-barang yang aku beli dengan keringatku sendiri. Aku tidak ingin membawa barang-barang yang dia berikan padaku. Wanita separuh baya yang duduk diam di dalam kamar menangis sedih saat aku meninggalkan rumah, bukan salah dirinya aku pergi, aku sangat mencintai dirinya, tetapi aku tidak tahan dengan perlakuan lelaki tersebut. Aku melihat wajah lelaki itu dengan penuh kebencian, kemudian aku melihat wajah wanita setengah baya yang terus mengatakan padaku agar aku tidak meninggalkan tempat ini, aku tidak ingin pergi dari sini, tapi keputusanku sudah bulat, aku akan pergi untuk membuktikan bahwa aku tidak selalu salah.
Tujuh tahun sudah berlalu, selama itu aku tidak pernah berjumpa dengan mereka, aku ingin berjumpa dengan wanita yang sangat aku cintai di dunia ini, tapi rasa benciku tak luntur sama sekali pada lelaki itu. Hingga pada saat aku sedang berjalan menuju kantorku, aku melihat seorang kakek-kakek yang tiba-tiba jatuh tersungkur saat sedang berjalan di pinggiran jalan. Aku meminggirkan mobilku dan menolong kakek tersebut, "Kakek tidak apa-apa?" Tanyaku dengan sedikit muka cemas, tetapi lelaki tua tersebut hanya menggelengkan kepalanya, aku melihat ke arah kakinya yang di bungkus celana bahan warna hitam yang sudah sangat lusuh, banyak lobang di mana-mana. Ada luka di lutut kakinya, aku merasa luka tersebut akibat ia jatuh tersungkur tadi, aku mengajak lelaki tua tersebut untuk ikut aku ke rumah sakit agar cepat mengobati kakinya, lelaki tersebut hanya diam dan menurutiku.
Sesampainya di rumah sakit, ia pun segera di obati di ruangan unit gawat darurat, saat ia sedang duduk di kasur, aku bertanya kepada lelaki tua tersebut, "Kakek ingin pergi ke mana?" Ia diam sejenak dan kemudian mengatakan bahwa ia ingin menjumpai anak laki-lakinya yang sudah lama tidak ia jumpai, ia juga mengatakan bahwa ia berharap anak laki-lakinya itu sepertiku. Aku terdiam sejenak, entah apa yang aku rasakan, banyak yang terlintas di pikiran dan hatiku. "Aku dan anakku sering bertengkar sejak ia remaja, aku hanya menginginkan ia menjadi lelaki yang bertanggung jawab, tetapi dia dan egonya, aku dan egoku mengalahkan perasaan kami, hingga ia pergi meninggalkanku, sudah 2 bulan ia tak pulang, sehingga aku mencoba mencari dirinya" Cerita lelaki tua tersebut padaku dengan mata yang berkaca-kaca.

No comments: