Kau
adalah satu dari sekian orang yang kalah, kau termasuk golongan yang membebani
orang lain, semua orang kecewa dengan dirimu!, kata-kata itu selalu
berputar-putar di dalam kepalaku, tak pernah terlupakan walau hanya satu kata
saja. Aku duduk terdiam di pinggiran jalan yang penuh dengan kendaraan lalu
lalang, seperti takut kehilangan waktu berharganya, hanya aku yang duduk
menghabiskan waktuku untuk melihat kendaraan-kendaraan tersebut. Aku tidak
punya rumah, aku tidak punya keluarga, aku tidak punya apa-apa, yang ku punyai
hanyalah tubuh yg utuh, pakaian yang sudah lusuh dan diri yang hina.
Aku
rindu dengan suasana hangatnya sebuah keluarga, melupakan segala penghargaan
diri, yang ada hanyalah kasih sayang yang tulus. Tapi itu hanyalah sebuah
impian belaka, yang terakhir aku lihat hanyalah air mata seorang ibu dan amarah
seorang ayah. Aku sebagai orang yang hina tidak berhak untuk tinggal di sana,
hanya membawa beban dan malu, lebih baik aku pergi jauh dan melupakanku, aku yang
tak pantas untuk di ingat dan di kasihi, karena aku hanya seseorang yang tidak
lebih dari sampah.
Aku
hanya duduk dan duduk, tanpa melakukan apa-apa, hanya menyaksikan semua
kesibukan yang ada di depan mataku. Aku hanya berharap ajal datang dan semuanya
akan hilang begitu saja, Aku melihat sebuah mobil dengan kecepatan tinggi
berjalan lurus ke arahku, aku tidak berusaha melarikan diri, tetapi hanya diam
dan menatap dalam kendaraan tersebut. "BUUUGGGGGGG" Aku merasakan
sakit yang sangat dan aku sadar aku sedang terbang terpelanting dan akhirnya
""BBBUUUGGGG" tubuhku mengenai sesuatu yang kokoh di belakangku,
dengan cepat aku hilang kesadaran.
Aku
membuka mataku, aku merasakan tubuhku sangat ringan, tanpa beban, "Apa aku
sudah mati?" Yang aku lihat hanyalah ruangan tanpa ujung dan semuanya
bewarna putih terang, pakaianku tetap lusuh. Aku berjalan mengelilingi ruangan
tanpa ujung tersebut, hingga aku mendengar sesuatu, "Belum waktumu untuk
ke sini, kembali lah". "Apa maksud mu? Aku tidak mau kembali, aku
tidak di butuhkan di sana!" Bentakku dengan keras.
"Sesungguhnya
Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang
mengubah apa apa yang pada diri mereka" Ucap suara tersebut. Aku hanya
bisa diam, aku telah berusaha memberikan yang terbaik, tetapi, aku dapatkan
hanyalah emosi marah dan tangis. Tiba-tiba aku terhempas dan merasakan sakit
seperti terjatuh dari ketinggian.
No comments:
Post a Comment