Pagi itu anak-anak SD sedang was-was menantikan hasil akhir belajar mereka selama satu semester di sekolah. Mereka duduk dengan perasaan yang bercampur aduk, ada rasa takut, senang, sedih, dan lain-lain.
Salah satu siswa SD tersebut terdapat seorang anak yang biasa saja, memiliki kehidupan yang sederhana. Dia juga merasa was-was saat menantikan detik-detik penerimaan rapor semester satu, ia takut jika nilainya hancur. Ia teringat dengan ibunya yang di rumah menantikan rapor yang akan terima beberapa saat lagi. Tak lama dari itu, wali kelas pun datang kedalam kelas dengan membawa 32 buku rapor yang ditakutkan oleh para siswanya.
Setelah guru tersebut duduk, beliau mulai memberikan pengarahan pada siswanya agar belajar lebih giat lagi, jika nilainya bagus harus dinaikkan, begitu juga untuk nilai yang kurang bagus. Siswa pun semakin takut karena ucapan guru tersebut. Akhirnya guru tersebut memanggil nama siswa satu persatu untuk memebagikan rapor mereka.
Setelah penerimaan rapor selesai, para siswa pun mengungkapkan perasaan mereka karena telah menerima hasil akhir mereka selama satu semester. Ada yang tertawa senang dan ada juga yang menangis. Berbeda dengan Anto, raut wajahnya saja yang berubah agak kecut. Ketika sahabatnya bertanya tentang nilai rapornya, ia menjawab dengan santai, "Nilai aku biasa saja, ga bagus tapi juga tidak jelek." Karena keasyikan mengobrol ia lupa kalau ia meletekkan rapornya di dalam laci meja belajarnya. Bel tanda usainya sekolah berbunyi, para siswa pun mulai berhamburan keluar kelas untuk segera pulang, memberikan rapor mereka kepada orang tua mereka.
Sesampainya di rumah, ibu Anto langsung menyuruh Anto untuk berganti pakaian dan segera makan siang. Pada saat itu ibunya tidak ada bertanya tentang rapor Anto. Anto pun tidak ingin mengungkit nilai rapornya.
Malam pun tiba, ibu Anto menghampiri Anto yang sedang membaca buku di ruang keluarga dan bertanya, "Anto, rapor kamu di mana? ibu ingin melihat nilai-nilai kamu."
Anto pun langsung pergi kekamarnya untuk mengambil rapornya di dalam tas. Tetapi alangkah terkejutnya Anto ketika ia tidak menemukan rapornya. Wajahnya begitu pucat dan takut. Dengan langkah gontai Anto mendatangi ibunya dan berkata, "maaf ma, rapor Anto ketinggalan di dalam kelas, Anto lupa memasukkannya kedalam tas Anto."
Dengan seketika ibu Anto langsung memarahi Anto dengan alasan ia meninggalkan rapornya di kelas karena nilainya jelek dan ibunya Anto langsung memukuli badan Anto dengan kayu kursi yang di duduki Anto.
Anto mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, tetapi hal tersebut tidak digubris oleh ibu Anto. Beberapa kali kayu tersebut melayang ke kepala Anto dan dapat di tangkis oleh Anto, tapi ada satu pukulan yang tak dapat Anto tangkis sehingga meninggalkan memar yang tak terlihat.
Selesai ibu Anto mengamuk, beliau langsung masuk kamar dan mengunci diri.
Anto pun masuk ke kamarnya sambil menangis akibat rasa sakit yang di terimanya.
Esok paginya Anto langsung pergi ke sekolah untuk mengambil rapornya yang ketinggalan di dalam kelas. Setelah mengambil rapor tersebut Anto langsung pulang kerumah dan memberikan rapor tersebut kepada ibunya. Setelah melihat nilai Anto yang tidak jelek, ibu Anto langsung meminta maaf kepada Anto.
Setelah itu semua berjalan dengan lancar. Kecuali saat Anto mulai memasuki masa-masa smp dan sma.
Setiap semester 1 nilai Anto selalu hancur, kata gurunya karena Anto pindah sekolah mengikuti ayahnya yang sering di pindah tugaskan dalam pekerjaannya, sehingga ia agak sulit untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
Tetapi ketika memasuki perkuliahan Anto mendapatkan masalah yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Jalannya tidak bisa lurus, jika terlalu lelah, kepalanya akan terasa berat, bahkan pingsan. ia tak mengerti kenapa ini terjadi padanya. Akhirnya ia pergi kerumah sakit untuk memeriksa keadaannya, setelah mengecek keadaannya dari rumah sakit, ia pun langsung pulang. Malamnya Anto belajar untuk ujiannya besok, tetapi ia hanya membaca sebentar lalu langsung tidur. Keesokan paginya dengan biasa ia bangun pagi, mandi, berpakaian dan langsung menuju ke kampus untuk ujian.
Pada saat mengerjakan ujian entah kenapa kepalanya mulai sakit dan ia pun mengerjakan soal semampunya, Setelah itu ia meminta izin kepada pengawas untuk pergi ke toilet. Pengawas mengizinkannya dengan syarat kertas ujiannya di kumpulkan. Anto pun setuju. Setelah mengumpulkan kertas ujiannya ia pun berjalan menuju keluar ruangan ujian, tetapi pada saat ia membuka pintu, ia langsung terjatuh dan dengan segera ia bangun kembali dan berjalan agak cepat keluar kelas tersebut. Setelah itu ia langsung duduk di kursi yang ada di kampus untuk meredakan sakit kepala yang ia derita. setelah sakit kepala yg ia alami reda, ia langsung pulang menuju kosan.
Hal tersebut sering terjadi selama satu semester. Ketika nilai ujiannya keluar, nilai Anto lumayan rendah. Kemudian ia memberitahu kedua orang tuanya tentang nilainya dan kedua orang tuanya pun marah terhadapnya. Ketika ia kembali ke rumah orang tuanya, orang tuanya bertanya kepada Anto, kenapa bisa nilai Anto seperti itu.
Anto hanya menggelengkan kepala menandakan ketidak tahuannya. Tak lama dari itu Anto pun mengatakan sesuatu kalau dirinya sring merasa sakit kepala dan hampir pingsan.
Orang tua Anto pun mencoba membawa Anto ke rumah sakit unuk pemeriksaan. Dokter pun mengecek keadaan Anto. Seusai dokter mengecek keadaan Anto, dokter pun datang menghampiri kedua orang tua Anto.
" Bu, pak, saya minta maaf sebelumnya. Keadaan Anto sudah parah dan kami tidak dapat melakukan apa pun. Otak Anto bagian kanan blakang sudah kronis. Setiap hari akan ada penurunan zat otak yang menyebabkan ia tak dapat berjalan lurus, tak bisa berfikir keras dan menjadi pelupa. Hal tersebut di akibatkan karena otaknya pernah terbenturan benda tumpul."
Hati orang tua Anto pun langsung sesak bagaikan terkena sentruman listrik. Mereka tak tahu apa yang terjadi. orang tua Anto pun bertanya pada Anto, "Kenapa kepala kamu bisa terbentur seperti itu Anto?"
Anto menjawab dengan ragu-ragu, " Itu..itu..itu terjadi waktu mama marah sama Anto, waktu Anto lupa membawa pulang rapor dan mama memukul Anto dengan kayu kursi, beberapa kali mama mukul kepala Anto."
Hati sang ibu pun langsung sakit, hanya kekhilafannya yang sesaat, ia akan kehilangan anak laki-lakinya. 5 tahun kemudian, Anto hanya tinggal di rumah. Ingatannya hilang, ia lumpuh tak dapat berjalan. Hidup itu harus di isi dengan kesabaran dan kepercayaan. Karena tak ada orang yang smpurna.
No comments:
Post a Comment