“ Selamat pagi bu”
“ Selamat pagi, mau cari siapa yah?”
“ Ini bu, saya ingin bertemu dengan Yudha?”
“ Yudha?”, sahut ibu nya yudha dengan wajah yang terkejut.
“ Memangnya ada apa bu, kenapa ibu seperti terkejut?”
“ Kamu siapanya Yudha?”
“ Saya pacarnya Yudha bu, masak ibu lupa.”
“ Syastri?”
“ Iya bu, saya Syastri.”
“ Haduh, sudah 10 tahun tidak berjumpa dengan mu nak, kamu telah berubah banyak yah, silahkan masuk nak.”
Aku pun di suruh masuk oleh ibunya Yudha kedalam rumah dan mempersilahkanaku untuk duduk, kemudian ibunya Yudha pun ikut duduk di sebelah ku. Tiba-tiba ibunya Yudha memelukku dan aku pun spontan terkejut, ditambah dengan ibunya Yudha menangis.
“Ada apa bu? Kenapa ibu mengangis?” kataku yang mulai ketakutan.
“Yudha sudah 2 tahun yang lalu meninggal. Dia terkena penyakit jantung.”
Aku langsung tersentak dan tiba-tiba air mata ku mulai mengalir. Seperti pedang yang sangat tajam menghunus di jantungku, sehingga aku tak dapat tuk bernafas. Dengan sesak aku bertanya, “Ga mungkin bu..ga mungkin..kenapa selama ini saya tidak di beri tahu bu? Kenapa?” Ibu Yudha pun berusaha menahan rasa sakit yang di alaminya dan mejelaskan semuanya.
****
Tiga tahun yang lalu, saat Yudha sedang berkuliah di Jakarta. Saat itu dia kuliah semester 6, dia menelefon ke rumah dan meminta pulang. Katanya rindu sama orang rumah, tapi papanya malah marah dan bilang kalau udah libur baru pulang. Kemudian tante menanyakan kabarnya dan ia menjawab baik-baik saja. Beberapa hari setelah itu, tante dan keluarga mendapat telefon dari kakeknya Yudha yang rumahnya dekat dengan tempat kos Yudha, mengabarkan kalau Yudha masuk rumah sakit dan tante pun mulai panik. Siang itu juga oom langsung meminta libur dari kantor dan memesan pesawat.
Untungnya ada kursi yang kosong, tante dan keluarga langsung berangkat ke Jakarta. Selama dalam perjalanan pikiran tante semakin tidak karuan, berharap agar cepat sampai. Adik-adik nya Yudha mulai menangis di dalam pesawat.
Sesampainya di Jakarta, tante dan keluarga langsung pergi menuju ke rumah sakit tempat Yudha di rawat. Selama dalam perjalanan tante tidak pernah berhenti membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Dan selama di dalam taxi tante memeluk kedua adik-adik nya Yudha.
Setelah sampai di rumah sakit, di depan pintu masuk telah menunggu kakek dan neneknya Yudha. Tante langsung berlari menuju kakek dan nenek nya Yudha dan bertanya di mana Yudha di rawat. Tante dengan tergesa-gesa berjalan menuju kamar di mana Yudha di rawat. Setibanya di depan pintu kamarnya Yudha, tante dengan membaca basmallah membuka pintu kamar Yudha. Dan melihat Yudha yang terbaring lemah diatas kasur dan di sekujur tubuhnya terdapat alat-alat rumah sakit, seperti kabel-kabel, infuse, tabung oksigen dan alat pendeteksi detak jantung. Air mata tante pun mengalir dengan derasnya.
Tak lama kemudian dokter datang ke kamar Yudha dan memanggil tante dan oom untuk berbicara di ruangan dokter tersebut. Saat berada di ruangan dokter tersebut, dokter itu memperkenalkan dirinya, namanya adalah Nanda. sesuai dengan tag name yang terpasang di kantong bajunya.
Dokter Nanda mengatakan bahwa Yudha terkena penyakit jantung yang kronis, sekarang Yudha dalam keadaan koma. Dokter Nanda dan semua pihak rumah sakit akan berjuang sekuat tenaga untuk memberikan yang terbaik. Yudha bisa di bawa kesini, pada saat itu Yudha sedang bermain futsal di dekat rumah sakit ini. Saat sedang bermain, ia merasa dadanya terasa nyeri dan tangan kirinya serasa mati rasa, tetapi ia tetap bermain dan tiba-tiba dia langsung pingsan. Kemudian teman-temannya langsung melarikannya ke rumah sakit ini. Begitulah cerita kejadian yang di paparkan oleh teman-teman Yudha.
Selama Yudha koma, tante selalu ada di samping Yudha. Tidak pernah meinggalkan Yudha sedikit pun. Tante makan, mandi, sholat dan tidur selalu di dekat Yudha. Hingga pada hari keempat Yudha sudah mulai siuman dengan menggerakkan jari-jari tangannya dan memanggil-manggil tante. Perasaan tante langsung senang ketika Yudha siuman.
Kemudian tante menyuruh oom untuk memanggil dokter atau suster. Tante menangis karena bahagia. Kemudian dia bertanya kabar keluarga, tante jawab baik baik saja, setelah itu bicaranya ga jelas yang membuat tante menangis, tiap kata dari dia masih tante ingat hingga sekarang. Ia mengatakan, “ Ma, Yudha senang banget bisa di besarkan sama papa dan mama. Yudha juga senang banget punya adik-adik seperti kalian, kalian harus bisa mandiri walau pun mas ga ada, tapi mas akan selalu melihat kalian dari jauh. Buatlah mama dan papa bahagia. Terima kasih banyak ma, pa. mama, sampaikan pada Syastri kalau mas sayang banget sama dia, katakan juga mas berharap dia bisa lebih baik di hari kemudian danmendapatkan jodoh yang leih baik dari pada mas.”
Setelah itu Yudha mengucapkan dua kalimat syahadat, dan tersenyum. Tante hanya bisa menangis dan ketika dokter Nanda datang, dokter Nanda pun langsung mengecek seluruh tubuh Yudha dan dengan menengadahkan kepala dokter tersebut mengatakan bahwa Yudha hanya pingsan. Kemudian tante dan keluarga langsung di suruh keluar oleh dokter tersebut. Dan tak berapa lama kemudian dokter Nanda keluar dan meminta maaf pada kami sekeluarga karena Yudha telah pulang duluan.
Secara reflek tante langsung pingsan. Keesokan harinya Yudha pun langsung di makam kan di TPU terdekat dari rumah tante.
****
Setelah mendengarkan semua cerita mamanya Yudha, aku tak dapat lagi menahan diri. Aku langsung meminta tante untuk mengantarkan ku ke makam seseorang yang sangat aku cintai itu.
Tante pun masuk ke dalam rumah untuk mengganti pakaiannya. Kemudian aku dan tante pergi menuju makam Yudha. Selama dalam perjalanan aku hanya diam, mengenang semua yang telah aku lalui dengan Yudha. Tapi kini semua itu hanya lah tinggal kenangan.
Setibanya di makam Yudha, aku langsung menangis histeris dan memanjatkan doa-doa untuknya. Aku masih belum percaya kalau Yudha telah meninggal dunia, aku masih berfikiran kalau itu hanyalah sebuah bualan bisa. Tapi pada kenyataannya Yudha telah tiada. Saat aku sedang bersandar di batu nisan Yudha, ibunya Yudha berkata, “Ikhlaskan lah ti, hidup kamu masih panjang dan kamu harus bisa hidup lebih baik lagi. Selama ini tante sudah menganggap kamu anak tante sendiri, jadi jangan sungkan-sungkan untuk berkunjung ke rumah.”
Setelah mendengarkan hal tersebut aku merasa ada sesuatu yang ingin keluar dari dalam diri ku. Aku langsung memeluk ibunya Yudha yang kini telah menjadi ibu kedua ku.
Setelah hari itu, keluargaku dan keluarga alm. Yudha semakin dekat dan sudah seperti keluarga sendiri. Aku merasa senang sekali punya adik-adik, karena aku anak tunggal. Adik-adiknya alm. Yudha kini menjadi adik ku juga. Setiap doa ku, selalu aku berdoa untuk kebahagiaan yudha di sana.
by Yudha Prisnanto
No comments:
Post a Comment